Pengertian Politik Aliran dan Faktor-Faktornya

Pengertian Politik Aliran – Politik aliran adalah keadaan di mana hadir sebuah kelompok yang di kelilingi oleh organisasi-organisasi massa, baik secara informal maupun secara formal. Tali pengikat tersebut, terjalin antara kelompok maupun organisasi massa dan berupa sekte atau ideologi tertentu.

Politik aliran merupakan politik yang hadir pada suatu masyarakat untuk memilih pilihan politiknya, berdasarkan dengan agama, aliran maupun ideologi yang di anut oleh masyarakat tersebut. Lebih lanjut mengenai politik aliran, simak penjelasannya hingga akhir artikel ya!

Pengertian Politik Aliran

Politik aliran di akui maupun tidak di akui memiliki kekuatan sendiri pada lembaga politik. Suatu aliran, dapat mengembangkan segala jenis tujuannya dengan bidang politik, massa yang telah di miliki oleh suatu aliran, akan menjadi pendukung yang fanatik dari sebuah partai politik. Politik aliran dapat memberikan warna tersendiri dalam politik di Indonesia.

Politik aliran dapati di artikan sebagai suatu gagasan yang di gunakan demi mencapai tujuan dari masing-masing kelompok tertentu dengan politik sebagai sarana yang di gunakan.

Sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan tertentu, politik dapat membuat suatu aliran atau kelompok menjadi lebih di kenal oleh khalayak ramai. Tujuan yang sebelumnya telah di gagas oleh kelompok tertentu pun dapat terus di lanjutkan dengan menggunakan politik.

Ciri-Ciri Politik Aliran

Teori mengenai politik aliran ini mulanya adalah wacana yang merujuk pada penelitian yang di lakukan oleh Clifford Geertz pada tahun 1962. Dalam penelitian tersebut, Geertz menggambarkan bahwa ada dinamika pada religiusitas pada masyarakat di Jawa yaitu santri modernis tradisionalis, abangan serta sekuler.

Dari penelitian tersebut, kemudian muncul sebuah teori bahwa masyarakat Jawa terbagi dalam tiga varian, yaitu santri, bangan dan priyayi. Ketiga varian tersebut, menjadi basis dalam paham lembaga-lembaga politik aliran pada platform organisasi, termasuk ketika memetakan basis dari dukungan masyarakat.

Argumen Clifford Geertz tersebut, kemudian menjadi landasan untuk membaca perilaku dari para pemilih dari hasil pemilu pada tahun 1955. Di manado pola dari pemilih yang mencerminkan dua tipe keagamaan yang di anut oleh masyarakat Indonesia di Jawa pada tahun itu, yaitu santri dan abangan yang memunculkan perbedaan pada partai Islam serta partai non Islam.

Dari teori politik aliran yang di gagas pertama kali oleh Geerts, politik aliran memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang menjadi kekhasan politik aliran. Berikut beberapa cirinya.

1. Memiliki afiliasi dengan organisasi tertentu

Suatu organisasi politik, selalu memiliki hubungan dengan organisasi yang berada di negara tersebut. Organisasi yang memiliki afiliasi dengan partai politik memiliki tujuan yang sama dengan partai politik tersebut.

Partai politik yang di buat, umumnya memang memiliki tujuan agar dapat memberikan ruang kepada anggota untuk dapat berkecimpung di dunia politik. Tokoh-tokoh dominan dari aliran atau organisasi tersebut, akan menjadi tokoh yang di kenal dalam politik aliran yang di bentuk.

2. Dukungan yang hadir berdasarkan suku

Orang-orang yang terlibat dalam politik aliran, dapat menggunakan alasan memiliki suku yang sama. Ikatan dari suku yang sama tersebut, menjadi ketertarikan tersendiri, agar seseorang mau masuk dalam ranah dunia politik. Saat ini, ada dua daerah di Indonesia yang memiliki kekuatan politik bersadarkan suku, hingga membuat partai khusus untuk daerah tersebut. Kedua daerah tersebut ialah Papua dan Aceh.

3. Memilih sesuai dengan ormas yang di ikuti

Terkadang, masyarakat yang terlibat dalam politik praktis tidak memilih berdasarkan dengan pilihannya sendiri. Akan tetapi mendapatkan pengaruh dari beberapa pihak. Contohnya seperti golongan ormas tertentu yang memiliki banyak anggota, secara tidak langsung maka ormas tersebut berharap bahwa anggotanya akan memiliki politik dengan aliran yang sama dengan ormas yang di ikuti.

Faktor Penyebab Politik Aliran

Seperti yang di jelaskan sebelumnya, politik aliran hadir pertama kali karena penelitian yang di lakukan oleh Clifford Geertz. Di samping penelitian tersebut, politik aliran hadir di Indonesia karena faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

Clifford Geertz mengelompokan beberapa sumber politik yang kemudian ia sebut sebagai politik aliran dan menjadi ciri dari perpolitikan di Indonesia pada masa itu. Pengelompokan yang di maksud bersumber dari etnis, agama, kedaerahan dan lainnya. Pengelompokan-pengelompokan tersebut, terjadi karena pada pasca kemerdekaan, masyarakat mengalami pembelahan sosial yang cukup tajam.

Pada masa pasca kemerdekaan, masyarakat tidak hanya terbelah berdasarkan beberapa kelompok tertentu, akan tetapi juga terjadi pada sistem kepartaian. Sehingga, hadirlah partai-partai yang memiliki ideologi yang berbeda-beda sesuai dengan aliran masing-masing.

Sehingga, partai politik pada masa itu pun memiliki basis massa yang berbeda-beda. Geertz juga berpendapat, bahwa politik aliran yang muncul di Indonesia ini tidak terlepas dari akar budaya sekaligus keagamaan pada masyarakat Indonesia di tahun 1950 an. Hadir kultur-kultur yang ikut mewarnai afiliasi politik di Indonesia dan menyebabkan politik di Indonesia tidak berimbang.

Kemudian Geertz menjelaskan pula bahwa politik aliran semakin menguat di masa Orla, di mulai dari pemanfaatan dari kesetiaan primordial demi kepentingan politik semata. Geertz menilai bahwa politikus Indonesia saat itu, menggunakan kesetiaan primordial sebagai dasar kesetiaan politik.

Selain faktor-faktor yang di jelaskan oleh Geertz, politik aliran hadir di Indonesia karena di sebabkan oleh beberapa hal berikut ini.

1. Adanya kepentingan organisasi

Organisasi sosial mulai ingin memasuki dunia politik dengan caranya masing-masing serta memiliki kekuatan besar, umumnya akan memilih untuk membuat organisasi politiknya sendiri. Suatu aliran yang memiliki prinsip pun ingin menerapkan prinsipnya tersebut pada ruang lingkup yang lebih luas. Keinginan organisasi maupun aliran yang ingin mendapatkan ruang lingkup yang lebih besar, membuat hadirnya politik aliran dan membuat golongan tertentu lebih mudah untuk mencapai tujuannya masing-masing.

2. Ada tujuan yang ingin di capai

Politik aliran muncul karena setiap organisasi, aliran atau kelompok memiliki tujuannya masing-masing baik di dalam maupun di luar urusan politik. Ketika organisasi, aliran atau kelompok tersebut terbentuk, maka tokoh dan anggotanya telah memutuskan beragam tujuan yang ingin di capai bersama. Tujuan tersebut, biasanya tidak jauh berbeda dengan tujuan dari organisasi, aliran atau kelompok yang menjadi latar belakang dari terbentuk organisasi tersebut.

3. Memetakan suara

Adanya politik aliran di harapkan dapat dengan mudah ketika memperkirakan jumlah dukungan pada suatu partai politik. Pada masa-masa pasca kemerdekaan, di mana partai politik mulai berubah, setiap partai politik memiliki informasi yang minim, sehingga akan sulit untuk memetakan suara.

Akan tetapi dengan hadirnya politik aliran, yang basisnya adalah anggota organisasi yang berafiliasi dengan partai, maka partai politik pun akan lebih mudah untuk memetakan pemilih. Akan tetapi, pemetaan suara ini tentu berbeda dengan apa yang terjadi masa kini, sebab politik aliran kini hanya berlaku untuk beberapa organisasi, aliran maupun golongan besar saja.

Dampak Hadirnya Politik Aliran

Politik aliran yang hadir di Indonesia ini tentu menghadirkan beberapa dampak. Berikut penjelasannya.

1. Organisasi masyarakat dengan organisasi politik menjadi tercampur aduk

Terkadang, organisasi masyarakat yang berdiri dengan latar belakang yang sama dengan organisasi politik membuat masyarakat dan oknum-oknum menjadi kesulitan untuk membedakan keduanya. Campur aduk antara organisasi masyarakat dengan organisasi politik membuat kebijakan pemerintah menjadi kurang di dukung oleh masyarakat.

2. Edukasi politik melalui komunitas tertentu

Politik aliran tidak hanya memberikan dampak negatif bagi masyarakat, akan tetapi juga memberikan dampak positif. Salah satunya adalah dapat memberikan edukasi melalui komunitas-komunitas tertentu.

Setiap organisasi masyarakat, akan memiliki andil untuk mengenalkan politik pada masyarakat dan para anggotanya. Politik aliran hadir juga, untuk memberikan penjelasan serta edukasi kepada anggota. Sehingga anggota dari suatu organisasi masyarakat dapat lebih mengenal dan melek politik praktis.

3. Membuat masyarakat lebih tertarik pada politik

Dengan politik aliran, partai politik atau organisasi politik tentu akan membutuhkan sumber tenaga manusia guna menjalankan usaha-usahanya. Organisasi politik akan tersebut berusaha untuk membina anggota maupun masyarakat agar mampu membantu jalannya politik praktis. Semakin banyak masyarakat yang mengenal dan melek politik, maka semakin banyak pula masyarakat yang ingin mulai belajar dan mengenal dunia politik.

4. Membentuk masyarakat yang bersikap fanatik

Sayangnya, kehadiran politik aliran ini dapat berdampak negatif pula pada masyarakat. Sebab, pemetaan yang dibuat oleh politik aliran dapat membuat masyarakat menjadi fanatik pada politik aliran tersebut.

Masyarakat yang fanatik, cenderung bersikap buta dan tidak bisa membedakan salah atau benar yang dilakukan oleh tokoh-tokoh partai politik dukungannya. Selain itu, masyarakat fanatik juga cenderung selalu mendukung politik alirannya.

Dukungan yang berlebihan tersebut, bahkan bisa membuat kelompok atau aliran lainnya menjadi kurang nyaman, sehingga tak jarang pula dapat menyebabkan kesalahpahaman.

5. Memilih partai tertentu, karena ormas yang diikuti atau didukung

Ketika masyarakat memercaya organisasi tertentu, tak jarang masyarakat akan selalu mengikuti arah yang diberikan oleh organisasi yang ia dukung atau ikuti. Contohnya, ketika ada wakil presiden yang berasal dari kalangan tertentu di masyarakat, maka kebanyakan masyarakat dengan golongan yang sama dengan wakil presiden tersebut akan mendukung wakil presiden.

Itulah penjelasan mengenai politik aliran, mulai dari pengertian, ciri-ciri, dampak, faktor hingga contoh-contoh politik aliran. Semoga Membantu!